Pengujian Bahan Pengawet Formalin dan Boraks Di UPT. Pelkeswan, Kesmavet dan Klinik Hewan Provinsi Kalimantan Barat

POSTED BY ADMIN

Bahaya mengkonsumsi bahan pengawet berbahaya seperti formalin dan borak sudah masyarakat ketahui selain bersifat mutagen dan teratotogenik, juga dapat mengakibatkan keracunan, alergi, dan masalah kesehatan lainnya. Penggunaan formalin dan boraks dicurigai ditambahkan pada produk selain sebagai bahan pengawet, formalin dan boraks juga dianggap sebagai bahan pengenyal pada produk hewan tersebut.

Asam borat merupakan senyawa kimia yang berbentuk serbuk putih, dapat larut di dalam air dan hadir dalam bentuk padatan kristal tidak bewarna. Asam ini dikenal sebagai sasolit ketika berbentuk mineral. Keberadaannya di alam sangat berlimpah, beberapa dari senyawa ini ditemukan dalam keadaan bebas pada beberapa distrik vulkanik. Secara praktiknya senyawa ini akan terlarut di dalam air mendidih. Namun, ketika senyawa ini dipanaskan pada suhu melebihi 170°C senyawa ini akan membentuk HBO2 atau secara komersial disebut asam metaborat. Asam metaborat merupakan senyawa anorganik yang terbentuk karena adanya peristiwa dehidrasi dari asam borat.

Formalin adalah senyawa kimia berbentuk gas dan memiliki bau sangat menusuk, mengandung 37% dalam air, ditambahkan methanol sebagai stabilisator sebanyak 15%. Formalin berfungsi sebagai antimikroba yang dapat membunuh bakteri, jamur bahkan virus. Dapat bereaksi dengan protein yang terkandung di dalam makanan, sehingga membuatnya tidak mudah busuk. Biasanya formaldehid digunakan untuk pembersih karena dapat membunuh kuman, pengawet pada mayat, dan dalam konsentrasi. Nama lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formaldehide dan Formalith.

Di UPT Pelkeswan, Kesmavet dan Klinik Hewan Provinsi Kalimantan Barat memiliki laboratorium kimia yang mampu untuk mendeteksi adanya pengawet formalin dan boraks. Sejak tanggal 7 September 2018, pengujian formalin dan boraks sudah mendapat label akreditasi dari Komisi Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor LP-1246-IDN. Selain itu, pengujian formalin dan boraks juga sudah mengikuti uji banding dan uji profisiensi seperti BPMSPH Bogor, BVET Banjarbaru, BVET Wates, KAN dan Laboratorium Kesmavet Boyolali dengan hasil memuaskan atau inlier. Produk hewan yang dijadikan contoh untuk diuji berupa bakso, daging giling, sosis, nugget, daging burger, hekeng, rolade, dll.

Kemampuan uji di laboratorium didukung oleh sumber daya manusia yang terdiri dari dua dokter hewan dan satu paramedis sebagai analis, bahan-bahan yang kualitasnya terjamin dengan dilengkapi Certificate Of Analysis (COA) serta alat-alat yang memadai seperti fumehood, hotplate, vortex, pipette controller, laboratorium refrigerator, pipet dan gelas ukur yang sudah terkalibrasi dan dilakukan cek antara tiap tahunnya.

Metode yang digunakan untuk pengujian formalin adalah IKP 5.4.1-9 Pengujian Formaldehida yang mengacu pada jurnal W.F. Oettingen 1954. Walaupun metode ini tergolong lama, tetapi dianggap masih relevan untuk mendeteksi formalin dalam produk hewan, selain persiapan contohnya mudah, bahan yang dibutuhkan sederhana, hasil yang didapatkan juga cepat. Metode ini juga selalu divalidasi setiap tahunnya. Untuk pengujian boraks, metode yang digunakan adalah AOAC Official methode 959.09 Boric Acid in Meat “Semi Quantitative”. Metode ini juga setiap tahunnya dilakukan verifikasi untuk menjamin keabsahan metode.

Peran laboratorium kimia adalah mendukung kegiatan surveilans kualitas produk hewan yaitu mengambil contoh-contoh di warung, kios, pasar, atau pembuat produk skala rumah tangga dengan pengujian yang dilakukan di laboratorium kimia. Surveilans ini adalah sebagai deteksi dini untuk mengetahui adanya bahan pengawet berbahaya yang beredar di pasaran. Kegiatan surveilans juga dilakukan oleh BVET Banjarbaru dan BPMSPH Bogor.

drh. Noor Asy Syifa