Surveilans Rabies di Kabupaten Sanggau

POSTED BY ADMIN

Kabupaten Sanggau merupakan salah satu Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat yang tertular rabies.  Pada tahun 2019, jumlah populasi hewan penular rabies (HPR) di Sanggau adalah 43.130 ekor, tidak ada kasus gigitan HPR di tahun 2020, 3 positif uji FAT pada sampel otak anjing. Jumlah bantuan vaksin dari APBN untuk Kabupaten Sanggau sebanyak 4.500 dosis dan APBD 2 sebanyak 20.000 dosis, sudah tervaksin di bulan Juli dan Agustus 2020. Target pengambilan sampel adalah 96 sampel yang diambil dari anjing yang telah tervaksin.

Sebelum pelaksanaan kegiatan surveilans, dilakukan koordinasi dengan Dadan Sumarna, SP, selaku Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau. Dalam koordinasi dibahas berbagai hal yang antara lain penyampaian maksud tujuan kegiatan, penetapan final mengenai wilayah yang akan disurveilans, penetapan personil yang akan mendampingi, pembagian tim dan diskusi mengenai berbagai hal teknis mengenai urusan laboratorium kesehatan hewan, laboratorium kesehatan masyarakat veteriner dan klinik hewan. Hasil pembahasan, wilayah yang ditetapkan adalah Kecamatan Kapuas dan Tayan Hilir, dalam pelaksaaan kegiatan Tim didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dokter hewan dan paramedis dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau dan pendamping dari kantor desa).  Hari pertama 16 sampel di desa Tebang Benua dan desa Kawat Kecamatan Tayan Hilir. Hari kedua 14 sampel di desa Bunut dan desa Entakai, Kecamatan Kapuas. Hari ketiga 39 sampel di desa Lape, desa Bunut dan Desa Pancur Aji, Kecamatan Kapuas.

Dari hasil surveilans didapatkan sebanyak 59 serum darah anjing pasca vaksinasi yang pelaksanaan vaksinasinya dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2020.  Seluruh sampel tersebut akan diuji menggunakan metode Elisa rabies di UPT Pelayanan Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Klinik Hewan Provinsi Kalimantan Barat. Sampel yang diambil adalah hewan anjing, yang terdiri dari 55 anjing local dan 4 anjing ras. 22 ekor jantan dan 37 ekor betina.

Kendala

  • Anjing yang telah divaksinasi sebelumnya, pada waktu dilakukan surveilans sebagian besar sudah tidak ada (mati paska vaksinasi, dipotong untuk konsumsi, dijual, tertabrak dsb)
  • Pada waktu pelaksanaan tugas, sebagian pemilik anjing sedang berladang dan tidak ada di rumah sehingga anjingnya tidak bisa diambil darahnya
  • Beberapa pemilik tidak berani untuk memegang hewan peliharaannya sehingga petugas cukup kesulitan untuik melakukan restrain awal
  • Pemilik menolak petugas dikarenakan trauma anjingnya meninggal paska pengambilan darah seperti saat vaksinasi
  • Cuaca hujan pada waktu pelaksanaan kegiatan