Surveilans Rabies di Kabupaten Sintang

POSTED BY ADMIN

Pada tanggal 21 juni 2016 Bupati Sintang telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah meninggalnya anak 9 tahun akibat gigitan anjing yang positif rabies sebelumnya. Setelah itu kasus gigitan di kabupaten Sintang terus berkembang dan berlanjut hingga tahun 2021.

Salah satu tindakan pencegahan terhadap kejadian Rabies di kabupaten Sintang adalah dengan melakukan vaksinasi terhadap Hewan Pembawa Rabies (HPR) di seluruh kecamatan Sintang. Vaksinasi yang dilakukan bertujuan untuk membentuk kekebalan koloni terhadap masyarakat kabupaten Sintang dan menurunkan kasus atau kejadian Rabies di tingkat Desa dan dusun. Untuk evaluasi keberhasilan terhadap kegiatan vaksinasi yang dilakukan oleh vaksinator, maka survailan rabies dilakukan untuk mengetahui tingkat imunitas HPR yang mendapatkan vaksinasi Rabies.

Lokasi surveilans ditetapkan di beberapa lokasi anjing milik penduduk lokal dengan jumlah contoh ditentukan secara representatif untuk penentuan lokasi Surveilans Rabies ditentukan berdasarkan tingkat kejadian, jumlah HPR di vaksinasi, akses lokasi dan pertimbangan petugas di lapangan. Teknik sampling yang digunakan adalah Acak Sederhana, kemudian diproposionalkan sesuai pendanaan yang ada sehingga jumlah contoh yang tentukan adalah 32 contoh

Persiapan dilakukan dengan koordinasi kepada petugas di Kabupaten dan Desa, Persiapan alat dan bahan, Penentuan Tim Surveilans dan Target Sampling

Pelaksanaan dilakukan di 2 kecamatan dan 3 desa, yaitu: Kecamatan Ketungau Hilir desa BAung Sengatap, Kecamatan Sintang dengan desa Jerora I dan desa Akcaya. Contoh untuk surveilans Penyakit Hewan Menular (PHM) Rabies diambil berdasarkan pasca vaksinasi di Kabupaten Sintang. Jumlah contoh yang didapatkan adalah 34 contoh.

Kendala dan hambatan yang dijumpai dalam melaksanakan kegiatan seperti :

  1. Kabupaten Sintang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh, sehingga hari pertama kegiatan tidak dapat melakukan pengambilan samel
  2. Lokasi Kecamatan Ketungau Hilir sangat sulit untuk dilalui, terutama pasca hujan. Perlu waktu lebih dari 4 jam untuk sampai ke lokasi.
  3. Pada saat pengambilan sampel, terdapat kesulitan saat koordinasi dengan petugas di lokasi, dimana petugas pendamping belum menguasai wilayah yang dijadikan tempat sampling.
  4. HPR yang divaksinasi di bulan oktober sampai Desember 2020, lebih dari 60% sulit dikoleksi dengan kondisi anjing sudah dikonsumsi saat hari raya dan kebutuhan sehari hari, Anjing mati post vaksin ataupun akibat sakit yang lainnya, anjing memiliki nilai ekonomis sehingga di jual dan digantikan dengan anjing yang baru, anjing sulit ditemukan karena mereka dipelihara secara lepas liar, dan catcher atau pemilik yang ditakuti anjingnya tidak ada dirumah, sehingga target sampel tidak memungkinkan untuk di koleksi