TANTANGAN VAKSIN DENGAN MUTASI GENETIK

POSTED BY ADMIN

Vaksinasi sendiri dibagi berdasarkan sifat antigennya menjadi 2 jenis, yaitu vaksin life dan vaksin kill. Perbedaan yang mencolok terhadap vaksin ini adalah terletak pada antigennya dan kemampuan tubuh dalam merespon antigen yang berada di dalam vaksin. Pada vaksin life antigen yang digunakan adalah antigen yang telah dilemahkan dengan penambahan stabilisator pada vaksin tersebut yang berfungsi menjaga vaksin yang dalam sediaan kering beku dalam keadaan stabil dan tidak rusak akibat pengaruh luar seperti suhu dan cahaya. Sedangkan pada vaksin kill atau vaksin inaktif, antigen yang terkandung didalamya telah diinaktifkan patogenitasnya, sehingga untuk menjaga kelangsungan dari vaksin tersebut, maka antigen ditambahkan adjuvant yang dilarutkan sebagai pengganti stabilisator. Fungsi adjuvant selain untuk menjaga antigen agar tetap utuh juga sebagai time release control pada saat dimasukkan kedalam tubuh. Untuk menjaga adjuvant agar tetap bagus, maka diperlukan rantai dingin untuk mencegah terjadinya skiming dan cracking. Skiming merupakan kondisi dimana adjuvant terpisah dengan cairan pelarut dan adjuvant mengendap, sedangkan cracking merupakan kondisi dimana adjuvant rusak dan pecah. Pada kondisi seperti ini kualitas antigen tidak akan bisa dipertahankan, sehingga bila vaksin dalam kondisi seperti ini antibodi yang terbentuk tidak akan optimal bahkan cenderung cepat menurun. Adjuvant juga berfungsi untuk mengatur lama masa protektif antibodi terhadap penyakit dan berperan dalam booster atau pengulangan suatu vaksinasi.

Kemampuan dari sebuah vaksinasi dalam mengahadapi tantangan mutasi genetic menjadi konsentrasi utama untuk menciptakan vaksin dengan antigen yang homolog. Vaksin yang baik apabila vaksinasi yang apabila antigen yang diinokulasikan sesuai dengan jenis antigen yang ada di lapangan. Dengan antigen yang homolog diharapkan antibodi yang akan diproduksi juga akan homolog dan berikatan dengan antigen paparan di lapangan. Selain itu untuk beberapa antigen penyakit yang memiliki multiple karakter hal ini harus dihadapi dengan vaksin recombinasi untuk memunculkan berbagai antibodi dengan multiple antigen yang terdapat dalam sebuah vaksin. Selain faktor multiple karakter, faktor seeding merupakan factor yang menjadi konsentrasi khusus dalam hal vaksinasi. Vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tidak akan menimbulkan seeding pasca pemberiaannya. Pada vaksinasi Avian Influenza akan selalu memberikan dampak seeding, namun dengan baTas keberterimaan tidak lebih dari 7 hari. Vaksin life memiliki potensi terjadinya perbanyakan virus didalam tubuh host yang nantinya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran host. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam keseragaman vaksinasi dalam suatu koloni. Host yang sakit dan tidak tervaksinasi dalam koloni yang tervaksin akan memberikan resiko tinggi terpapar seeding virus dan meningkatkan resiko keterjankitan penyakit. Selain itu sedding virus dapat memicu terjadinya mutasi genetic yang menyebabkan vaksin menjadi tidak peka dengan antigen tantang dari lapangan

Baik vaksin life maupun vaksin kill sejatinya tidak akan menyebakan infeksi ataupun kesakitan pasca pemberiaannya. Namun kondisi hewan yang sehat diharapkan akan memberikan optimalisasi pembentukan antibodi, sehingga tingkat protektifitasnya akan terbentuk secara optimal. Selain kondisi kesehatan tubuh, faktor management pemeliharaan dan usia juga menjadi penentu dalam optimalisasi pembentukan antibodi. Managemen pemeliharaan meliuti asupan protein dan makanan yang dikonsumsinya. Semakin baik nilai gizi host, maka tubuh akan semakin mudah untuk memproduksi antibodi dalam skala yang besar. Perbanyakan ini juga sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi protein dari host. Pada host yang dipelihara dengan teratur dan baik, memiliki tingkat antibodi yang lebih baik daripada host yang dipelihara secara diliarkan, hal ini juga dingaruhi oleh kadar produksi hormonal tubuh yang merangsang pembentukan antibodi didalam tubuh. Selain itu tingkat kematangan organ limfoid juga mempengaruhi tingkat respon tubuh.  Pada usia dini, tubuh yang mendapatkan paparan antigen baik dalam bentuk vaksinasi dan antigen alami tidak dapat membentuk antibodi optimal, sehingga dalam proses vaksinasi tingkat protektifnya akan sangat bervariasi dan sangat cepat untuk menurun dari durasi of immunity atau waktu protektifitas yang diharapkan. Sedangkan dalam paparan alam, tingkat kemampuan adaptasinya akan menurun dan menimbulkan kesakitan dan mengganggu sistem imun host. Faktor maternal antibodi juga menjadi factor penganggu dalam proses netralisasi virus rabies.

drh. Huibert Hendrian Umboh