Peta Kualitas Produk Hewan Tahun 2019

POSTED BY ADMIN

Pengujian Formalin

 Metode deteksi formalin dilakukan dengan metode W. F. Von Oettingen MD. PhD 1954 menggunakan reagen larutan Phenylhidrazin 0,5 %, Natrium Nitropusida 5%, dan Natrium Hidroksida 10 %. Formalin merupakan salah satu bahan yang sering digunakan dalam kecurangan pada industri pangan terutama produk olahan asal hewan karena memiliki kemampuan membunuh kuman, mengenyalkan daging dan dapat mengawetkan bahan makanan olahan daging hingga 5 (lima) hari pada suhu ruang. Penggunaan formalin sudah dilarang dalam pengawetan makanan seperti yang diatur dalam Permenkes Nomor : 472 / Menkes / Per / V / 1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan. Total jumlah contoh yang diuji formalin sebanyak 96 dengan hasil semua contoh negatif.

Pengujian Boraks

 Deteksi boraks dilakukan dengan metode AOAC 959.09 menambahkan larutan asam klorida  pada contoh yang diteteskan pada kertas kurkumin (turmerik). Boraks merupakan bahan pengawet yang berbahaya jika dikonsumsi. Bahaya konsumsi boraks diantaranya adalah demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Seperti hal nya formalin, penggunaan boraks juga tidak diperbolehkan seperti yang diatur dalam Permenkes Nomor :                    472 / Menkes / Per / V / 1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan.

Total jumlah contoh yang diuji borak sebanyak 96 contoh dengan hasil negatif.

Pengujian Residu Antibiotik

Pengujian residu antibiotik menggunakan metode uji tapis (screening test) sesuai SNI 7424 : 2008 untuk mengetahui 4 (empat) jenis golongan antibiotika yaitu Aminoglikosida, Makrolida, Penisilin, dan Tetrasiklin dalam daging, telur dan susu secara bioassay. Prinsip pengujiannya adalah residu antibiotika akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar. Total jumlah contoh yang diuji residu antibiotik sebanyak 157 dengan hasil 21 (13,4%) contoh positif mengandung residu dan 136 (86,6%) contoh negatif.

Total Plate Count (TPC)

 Pengujian TPC pada produk peternakan bertujuan untuk mengetahui jumlah mikrooorganisme dalam bahan pangan asal hewan di 14 (empat belas) Kabupaten / Kota di Kalimantan Barat. Pengujian TPC dilakukan berdasarkan metode uji SNI 2897 : 2008 tentang metode pengujian cemaran mikroba dalam daging, telur dan susu serta produk olahannya. Jumlah total contoh aktif yang diuji TPC sebanyak 416 sampel dengan hasil 305 (73,3%) Contoh hasil uji TPC diatas ambang batas dan 111 (26,7%) contoh di bawah ambang batas.

Staphylococcus aureus

Pengujian Cemaran Staphylococcus aureus dilaksanakan berdasarkan  SNI 2897 : 2008 dan contoh yang diuji adalah daging giling, bakso, sosis, nugget, kornet, dll. Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang paling sering menjadi bakteri pencemar pada produk pangan olahan asal hewan. Bakteri ini banyak mengakibatkan keracunan karena kemampuannya menghasilkan toksin yang berbahaya jika bakteri tersebut berada dalam jumlah >1,0 x 102 koloni/gr sesuai dengn SNI 7388:2009. Total jumlah contoh yang diuji S.aureus sebanyak 102 dengan hasil 16 (17,7%) contoh diatas ambang batas minimum dan 86 (84,3%) contoh dibawah ambang batas.

Salmonella sp.

Pengujian cemaran Salmonella sp. pada produk peternakan dilakukan dengan metode SNI 2897 : 2008. Contoh yang diuji adalah daging ayam, daging sapi dan telur  yang berasal dari Rumah Potong Hewan / Tempat Pemotongan Hewan (RPH / TPH), Rumah Potong Ayam / Tempat Pemotongan Ayam (RPA / TPA), kios daging dan telur di Kalimantan Barat. Total jumlah contoh yang diuji Salmonella sp sebanyak 349 dengan hasil 71 (20,3%) contoh diatas ambang batas minimum dan 278 (79,7%) contoh dibawah ambang batas.

Escherichia coli

Pengujian Cemaran E. coli pada produk peternakan dilakukan dengan metode SNI 2897 : 2008 dan modifikasi dengan metode pour plate. Contoh yang diuji adalah daging ayam, daging sapi dan daging babi yang berasal dari Rumah Potong Hewan / Tempat Pemotongan Hewan (RPH / TPH) dan Rumah Potong Ayam / Tempat Pemotongan Ayam (RPA / TPA) dan kios daging babi di Kalimantan Barat. Total jumlah contoh yang diuji E.coli sebanyak 125 dengan hasil 77 (61,6%) contoh diatas ambang batas minimum dan 45 (38,4%) contoh dibawah ambang batas.

Coliform

Pengujian cemaran Coliform pada produk peternakan dilakukan dengan metode SNI 2897 : 2008 dan modifikasi dengan metode pour plate. Contoh yang diuji adalah daging ayam, daging sapi dan daging babi yang berasal dari Rumah Potong Hewan / Tempat Pemotongan Hewan (RPH / TPH), Rumah Potong Ayam / Tempat Pemotongan Ayam (RPA / TPA)dan kios babi di Kalimantan Barat. Total jumlah contoh yang diuji Coliform sebanyak 126 contoh dengan hasil 105 (82,5 %) contoh diatas ambang batas minimum dan 22 (17,5%) contoh dibawah ambang batas.